MARIO ANDAL PULU
SASAMBO DAN PAPANTUNG
Mario Andal Pulu
2411353014
Pengertian Sasambo:
Sasambo adalah sebuah tradisi sastra lisan berupa pengucapan syair atau puisi yang dilagukan yang diiringi oleh tabuhan tegonggong (sejenis tifa besar). Sasambo memiliki beberapa tema, seperti, nasihat, jenaka, kritik sosial, percintaan, dan juga merupakan media berdoa kepada yang Kuasa. Ada dua jenis sasambo. Pertama, jenis sasambo yang terdiri dua larik setiap bait. Kedua, sasambo yang terdiri empat larik dalam satu bait. Berikut contoh sasambo yang terdiri dari dua larik dalam satu bait syairnya.
Contoh
Lumintu bou tukade, lumempang
Laede kuaneng, talentuko ia ruata.
Dudareng ku kai bahani
Kere aha u manga bahanging
Dumaleng su katulide
Su dareng manga I upung gaghurang
(Turun dari pintu, melangkah
Dengan kaki kanan, sertai aku Tuhan.
Berjalan dengan berani
Seperti sikap para ksatria
Berjalan di jalan yang benar
Di jalan para leluhur)
Pengertian Papantung:
Papantung adalah bentuk pantun dalam kesastraan lama Indonesia (Melayu). Menggubah papantung merupakan kebiasaan masyarakat Sangir Talaud sejak lama. Papantung digubah saat-saat riang. Misalnya saat pernikahan, saat berkumpul-kumpul orang banyak. Diwaktu-waktu senggang dan sebagainya. Papantung terdiri dari empat larik dalam satu bait. Larik pertama dan kedua berfungsi menyiapkan larik-larik berikutnya.
Contoh
abe penalang putung,
maeng madiri matutung
abe manaruka taumata
maeng madiri pia sasaruka
(jangan bermain api
Jika tak ingin terbakar
Jangan mengganggu orang lain
Jika tak ingin ada gangguan)
PUISI MODERN
I’A (AKU)
Aku tetap seekor jalang
yang selalu terbuang dari kawanan
yang berteman kabut malam
sambil gelap membuat diam
Aku tetap seekor jalang
terpisah dari kawanan
karna ku tak sama
Aku kan tetap seekor jalang
Yang tak ingin sama
Dengan kebersamaan yang palsu.
Jogja, 21 september 2024
SUARA-SUARA PARA BAJINGAN
Tiba saatnya para bajingan berkumpul
bersatu, menyatu, atas indonesia
suara-suara tegas para bajingan melengkingkan keadilan, melawan kezaliman, dengan dasar penindasan
dan suara-suara ini kan terus bergaung
dan menjadi hantu-hantu di samping kalian
kami akan hadir dengan jiwa Munir untuk HAM, Marsina yang di perkosa
Thkul yang di hilangkan,
dan keadilan yang di perdaya.
Kami kan terus hadir dan berlipat ganda!!!
Jogja, 22 Agustus 2024
CERPEN
NUSA KUMBAHANG KATUMPAENG (NEG’RI KITA JANGAN DI MASUKI MUSUH)
Di suatu pagi kala Mentari masih malu menyapa bumi. Di satu desa kecil di ujung utara Sulawesi (sangihe) terlihat seorang lelaki dewasa yang menyambut Mentari sembari menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok. Ia sedang Bersiap hendak pergi ke kebun untuk memanen pala. Sembari menunggu istrinya mendange sagu (metode orang sangihe dalam mengolah sagu) untuk bekalnya di kebun, tiba-tiba datang seorang teman, ia seperti sangat ingin berucap sesuatu, dan tanya kalendesang kepadanya, “ada apa tinus?” si tinus menjelaskan ia mendengar kabar bahwa kampungnya, bahkan setengah dari pulau sangihe akan di tambang. Dengan sedikit ragu kalendesang berucap “heh kamu dapat kabar burung darimana lagi?”. Belum sempat menjawab si istri alma datang mebawakan bekal untuk sang suami, sambil bertanya “ada apa lagi sih tinus, kamu bawa kabar burung apa lagi? (dengan sedikit mengejek tinus.)” dengan serius tinus menjelaskan; kali ini saya serius, saya dengar berita ini dari kepala desa, serta kata anak saya. Anak saya dapat infonya dari, online dari gogele katanya. Google! (saut kalendesang dan istrinya) nah itu, kalau sampai pulau ini akan di tambang lantas bagaimana Nasib kita serta anak cucu kita nanti. Yasudah hal ini nanti kita bicarakan lagi, sekarang kita makan dulu nanti kita kesiangan ke kebunnya.
Sehabis mereka makan, akhirnya tinus dan kalendesang pergi ke kebun untuk memanen buah pala, saat itu kebetulan musim panen buah pala. Se sampainya di kebun pala mereka melihat ada sekitar lima orang dengan pakaian rapi, sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang penting, di antara 5 orang itu salah satunya ada warga negara asing. Kalendesang dan tinus tidak menggubris hal itu, mereka memutuskan untuk memanen buah pala. 3 jam dari situ saat kalendesang dan tinus selesai memanen, lima orang itu mendekati mereka dan bertanya; selamat siang timade, bagaimana hasil panen hari ini, banyak? Tinus pun menjawab: yah lumayan, mau banyak atau sedikit setidaknya masih memenuhi kebutuhan hidup aku dan keluarga lah. Kalendesang pun ikut bertanya ke lima orang itu, “oh iya timade, kok rapi sekali pakaiannya, tidak seperti orang yang ma uke kebun bawa bule lagi, apa ada yang mau menjual tanahnya?” Satu dari lima orang itu menjawab “oh iya begini timade, kami disini sedang mengsurvei tanah disni.” Tinus pun bertanya, “mengsurvei memang ada apa?” “Jadi begini pak tinus ( jawab salah seorang dari lima orang itu) kita sedang melihat kondisi tanah yang nanti akan di jadikan lahan untuk tambang. Jadi disni ada Perusahaan tambang emas yang mau masuk disni karna melihat potensi emas di tanah ini cukup besar, yah nanti lah buat lebih jelasnya, nah maksud kita datang kesini juga untuk menawarkan hal itu, kira pak kalendesang, tanah bapak ini kalau mau di jual, kami menawarkan harga 5 ribu 1 meter” Kalendesang sedikit tersinggung dan akhirnya ia percaya dengan ucapan tinus, ia tidak terima tanah warisan leluhurnya itu akan di tambang, sambil dengan nada yang tinggi ia menjawab “tidak, tanah ini tidak saya jual” sambil mengajak tinus untuk pulang, kalendesang dan tinus langsung pergi meninggalkan lima orang itu. Lima orang itu pun mebicarakan sikap kalendesang, “halah, jadi orang miskin kok banyak tingkah, kalo dia masih ngotot kita kasih dia Pelajaran”
Esok harinya Ketika kalendesang pergi kekebunnya ia kaget saat melihat kebunya sudah di acak-acak, buah-buah pala yang masih muda berhaburan, serta beberapa tanaman seperi tomat, cabe, dan ubi, telah di cabut. Dengan kesal Kalendesang pergi kembali ke rumah. Sampai di rumah Kalendesang membanting pintu dengan kesal, istrinya pun bertanya” kamu kenapa po? (opo, sebutan untuk lelaki dewasa di sangihe) Tinus dengan kesalnya menjawab, “ kebun kita di rusak, aku tau siapa pelakunya” dengan cepat Kalendesang mengambil balra (balra pedang suku sangihe) istrinya kaget hendak menahannya, namun dengan tergesah-gesah Kalendesang memaksa pergi, saat di jalan ia juga bertemu dengan Tinus sambil membawa balra, ternyata Tinus juga kebunnya di acak-acak. Mereka berdua akhirnya sampai kerumah salah satu dari lima orang kemarin, dengan marah Kalendesang berteriak “keluar kau bajingan, ku bunuh kau” orang yang di cari tidak kunjung keluar, ahkirnya para warga mengamankan Kalendesang dan Tinus. Para warga bertanya ada apa dengan mereka berdua, Tinus pun menjawab, “kebunku dan Kalendesang di rusak oleh dia, kemarin mereka menawarkan tanah kita agar di jual ke mereka, yah jelas kita menolak, besoknya malah kebunnya yang mereka rusak” para warga pun mengerti karna mereka juga ternyata mendapat perlakuan yang sama, tapi tak ada yang berani melawan.
Keesokan harinya alat-alat berat tambang di turunkan di kampung mereka, para warga pun tentu mencoba menghalanginya, namun apa boleh di buat, alat-alat itu di kawal oleh apparat pemerintah.
Malam harinya Kalendesang mengajak para warga untuk berkumpul, membahas masalah tambang ini, ia berkata, “tanah kita, tanah leluhur kita tidak boleh di tambang, ini ada tempat kita hidup, dan juga ini bukan hanya untuk kita, melainkan untuk anak cucu kita di kemudian hari” salah seorang pun berkata, “tapi mereka di kawal polisi, aku dengar juga para pemerintah sudah setujuh dengan hal ini” Kalendesang dengan gigih menjawab, “ini tanah kita bukan mereka, nusa kumbahang katumpaeng! “negri/ tanah kita jangan di masuki musuh)” mendengar itu para warga saat itu terbakar semangatnya, dan mereka memutuskan dalam beberapa hari kedepan akan melakukan perlawanan.
Beberapa hari setelah itu bertepatan dengan aksi perlawanan Masyarakat, ternyata pihak tambang sudah mengambil paksa beberapa lahan, dan di antaranya ada lahan Kalendesang, dengan amarah yang lebih membara Kalendesang membakar satu alat berat milik pihak tambang, soontak saja tindakan itu langsung langsung di hentikan apparat kepolisian yang bertapatan hadir di hari itu, akan tetapi apparat-aparat polisi itu masih kurang massanya untuk menghentikan perlawanan dari Masyarakat, dan saat itu situasi bertambah panas apparat yang kewalahan menembakan gas air mata, namun tentu saja hal itu tak berguna untuk menghentikan massa yang sudah gelap mata, saat situasi masih ricuh tiba-tiba ada alat berat menerobos memaksa masuk, Kalendesang yang saat itu berada di paling depan tidak mundur satu Langkah pun, melainkan ia mengangkat balra di tangan kanannya seolah menantang “sini maju!” seolah menyetujui tantangan itu, alat berat itu makin dekat hingga hampir menabrak kalendesang, tapi anehnya alat berat itu tiba-tiba terhenti sendiri, seolah ada tembok tak kasat mata di depan Kalendesang.
Kalendesang dengan gagah berani berkata, “ini tanah leluhurku, tanah aku dan semua Masyarakat disini. kita pasti di bantu Tuhan!” Tapi ternyata kejadian itu hanya pengalihan isu, tiba-tiba datang lebih banyak aparat kepolisian, dua kali lipat melebihi Masyarakat dan makin ricuhlah situasi saat itu.
Selang beberapa jam dari situ banyak dari massa aksi yang di bekukan paksa oleh aparat, tinggal Kalendesang sendiri yang tak berhasil di bekuk.
ternyata ia pergi Kembali kerumah karna khawatir dengan istrinya, sesampai nya dirumah betapa kagetnya Kalendesang melihat istrinya sudah terbujur kaku tak bernyawa dengan bekas luka di lehernya.
Kalendesang pun kembali ke tempat kejadian dengan penuh amarah ia membabi buta, di tebasnya balra ke semua orang yang coba menghalanginya, sampai tak ada satu aparat yang berani mendekati kalendesang.
Saat itu ada salah satu aparat yang membawa bambu panjang, mencoba menjatuhkan balra yang di pegang Kalendesang. Dan itu berhasil, balra Kalendesang jatuh. Salah satu aparat polisi mendekat dan coba menikam Kalendesang dengan sangkurnya, namun kulitnya bahkan tak tergores sedikitpun dengan sangkur itu. Salah seorang dari aparat itu mengambil balra Kalendesang dan menebaskannya ke Kalendesang, alhasil balra itu berhasil merobek kulitnya. Di penghujung nyawanya, kalendesang masih sempat dan dengan lantang berteriak, “nusa kumbahang katumpaeng”.
Kurang lebih 2 tahun lamanya Masyarakat sangihe melakukan perlawanan, dah akhirnya membuahkan hasil yang baik, pihak tambang telah di cabut izinnya serta apparat polisi yang terlibat di kejadian 2 tahun lalu, telah di pecat dan di penjarakan. Sebagai wujud rasa terimakasih Masyarakat sangihe, mereka mengubah nama kampung Kalendesang, yang awalnya manganitu, menjadi kampung “BOU DAHA I’KALENDESANG (dari darah Kalendesang)” kalimat “NUSA KUMBAHANG KATUMPAENG” pun menjadi semboyan di kampung itu.
SELESAI
Yogyakarta, 5, Oktober, 2024.
Comments
Post a Comment