ALYA NURPHASYAH

SERAMBE

Alya Nurphasyah

2411335014


Pengertian

Serambe adalah sastra lisan berbentuk pantun berirama yang hidup di Kecamatan Pangkalan Balai, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan. Muatan serambe membawa nilai budaya, nilai religi, dan pesan moral yang bersifat universal, serta sebagai wujud kebudayaan, serambe mengandung berbagai simbol dan makna yang menyertainya.


Contoh

(1)

Ke pasar beli pempek samo cuko,

Pas lah abes raso nak nambah.

Jangan lupo adat leluhur kito,

Itulah warisan yang amat indah.


Ke pasar beli pempek dan cuko,

Setelah habis mau nambah lagi.

Jangan lupakan adat leluhur kita,

Itulah warisan yang sangat indah.


(2)

Kelap-kelip warno bintang,

Bintang terang berwarno abang.

Kedap-kedip mato memandang,

Melihat gades asli palembang.


Kelap-kelip warna bintang,

Bintang terang berwarna merah.

Kedap-kedip mata memandang.

Melihat gadis asli Palembang


PUISI MODERN


Di Negeri Jauh

Di pagi buta, terbit mentari
Langkah kecilku mencari arti
Di negeri jauh, asing sendiri
Namun tekad ini takkan berhenti

Langit biru tak selalu ramah
Rindu rumah mengiris parah
Namun impian besar di dada
Membuat langkahku tetap gagah

Di setiap detik yang berlalu
Keringat jatuh, hati beradu
Di balik jarak dan segala rindu
Ada harapan yang selalu ku temu

Ibu, ayah, sabarlah menanti
Anakmu pulang membawa mimpi
Walau jauh, aku berjanji
Takkan menyerah di bumi rantau ini.


Kota Istimewa

Di bawah langit senja yang tenang,
Kota ini berdiri dengan megah dan terang.
Sejarah berbisik di tiap sudut jalan,
Menyimpan kenangan di alunan angin pelan.

Di sini, waktu seakan berhenti,
Menyatukan masa lalu dan kini.
Warisan budaya dan alam indah,
Membuat hati jatuh, terikat lemah.

Setiap sudutnya punya cerita,
Tentang perjuangan, cinta, dan makna.
Kota ini istimewa, penuh pesona,
Di sanalah jiwa merasa sempurna.

Malam tiba, lampu-lampu menyala,
Seakan menyambut jiwa yang singgah.
Di kota ini, mimpi-mimpi tumbuh,
Mengajarkan arti pulang dan berteduh.


CERPEN

ORIGAMI IVY

Manusia merupakan makhluk mortal yang sudah jelas tidak bisa disandingkan dengan kata keabadian. Setiap manusia pasti akan mati dan meninggalkan segalanya begitu saja di dunia. Kesadaran itu tentunya sudah diketahui oleh setiap insan yang masih hidup di muka bumi. Kesadaran bahwa masing-masing di antara mereka akan pergi suatu saat nanti. Namun, terkadang ego dalam diri yang sering serakah ingin dituruti, membuat kesadaran itu menjadi seakan bias. Kepercayaan bahwa esok hari tidak ada bedanya dengan hari ini, berhasil meninggalkan penyesalan paling mengerikan dalam hidup. 

Ibra, anak laki-laki yang baru saja lulus dari SMA itu, menghabiskan sisa hidupnya mengurung diri di dalam kamar tanpa arah dan tujuan. Banyak yang bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada hidup anak itu. Sebelumnya, Ibra merupakan anak tampan dan periang yang selalu memberikan aura positif untuk orang-orang di sekelilingnya. Namun, setelah kepergian keluarga satu-satunya Ivy sang adik, Ibra seolah berubah seratus delapan puluh derajat. Dia menjadi pribadi yang pendiam dan menutup diri. 

Tak ada yang tahu penyebab apa yang membuat Ibra menjadi begitu. Ibra sendiri tak memiliki teman dekat untuk bisa berbagi cerita. Berbagi mengenai rasa sesal yang sampai sekarang masih menghimpit rongga dadanya hingga membuat ia sesak setiap saat. Ibra merasa dia tidak layak melanjutkan hidup dengan semestinya. Dia tidak bisa melewatkan hari tanpa menangis dan meraung meminta maaf pada seseorang yang sudah terlanjur tiada. 

Kepergian sang adik berhasil membuat luka besar yang menganga di dadanya. Fakta bahwa dia lupa menjemput adiknya hanya karna game konsol, diakuinya sebagai tindakan paling bodoh yang pernah ada. Ibra membiarkan adiknya menunggu hingga akhir hayatnya yang di rampas oleh kecelakaan maut pada sore itu. Dia bahkan tidak sempat membelikan sang adik permen kapas yang Ibra janjikan sebagai permintaan maaf karena selalu bersikap jahil pada Ivy. 

Nyatanya, sang adik pergi sebelum sempat menyicip permen kapas yang akan dibelikan sang kakak di depan taman yang tak jauh dari rumah mereka. Ivy pergi dalam kondisi Ibra yang bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Semua ini terjadi karena Ibra sebagai orang satu-satunya yang Ivy punya, malah bertindak bodoh dan tidak bertanggung jawab. 

Ibra terbangun di atas tempat tidur dengan perut perih menahan lapar. Kedua matanya sembab setelah semalaman menangis sendirian di dalam kamar. Namun, perlahan-lahan, kesadarannya mulai kembali dan tubuhnya refleks meloncat dari kasur saat menyadari jika kondisi kamarnya terlihat berbeda dari apa yang ia ingat sebelumnya. 

Ibra berdiri dengan raut kebingungan. Kamarnya terlihat bersih dan disinari oleh cahaya matahari pagi yang berasal dari jendela balkon yang dibiarkan terbuka begitu saja. Ini tidak seperti kamar yang beberapa bulan terakhir menemaninya. Kamar Ibra biasanya kotor, berantakan, dan bau. Jika kamar Ibra menjadi bersih dan rapi, itu biasanya karena sang adik yang selalu mengomel betapa kotor kamar kakaknya itu.

Suara barang jatuh yang berasal dari dapur bawah rumahnya, membuat Ibra segera bergegas turun untuk mengecek. Jantungnya bertalu cepat saat di undakan tangga paling akhir, matanya menangkap penampakan punggung seseorang yang sangat ia kenal dan rindukan.

Ini pasti mimpi, batinnya berkata. Ibra mengerjap beberapa kali, namun gambaran punggung sang adik di depannya tak kunjung hilang dari pandangan. 

“Kak Ibra,” gadis kecil yang sedari tadi ia perhatikan itu, akhirnya menyadari keberadaannya dan memanggil namanya dengan wajah cengengesan karena sepertinya dalang dari suara bising tadi adalah sang adik. “Tadi Ivy mau ambil gunting buat tugas kerajinan di sekolah tapi malah jatuh semua barang-barangnya.” 

Dengan tubuh yang bergerak kaku tanpa sepatah kata pun, Ibra perlahan mendekat dan duduk di kursi meja ruang tamu sambil masih mengamati adiknya yang sibuk dengan origami yang ia gunting ntah ingin membuat apa, dengan wajah tak percaya Ibra terdiam beberapa saat. Ini bener-bener mimpi yang kayak nyata, batinnya bertutur lagi. Aku rela gak bangun-bangun!.

“Ivy bikinin kakak kupu-kupu. Nih, udah jadi.”Sang adik meletakkan sebuah lipatan origami berbentuk kupu-kupu dengan warna biru kehadapan sang kakak. Ia ingat bahwa dulu Ivy sering memberinya lipatan origami yang menurutnya kurang bagus ke Ibra dan yang bagus ia simpan untuk dirinya sendiri. Ibra benar-benar merindukan lipatan kertas kurang sempurna pemberian sang adik itu. 

“Makasih, Ivy,” ujar Ibra, setengah menahan tangis. Dia melihat adiknya duduk di sampingnya tanpa ada gunting dan origami lain di tangannya. “Kakak kenapa liatin Ivy gitu?” 

Sang kakak menggeleng pelan, lalu tersenyum hangat. “Enggak, kak Ibra cuman kangen dikasih origami buatan Ivy.”

“Tumben bilang gitu, biasanya origami ku, kakak katain jelek terus.” Dengus kesal sang adik dengan nada mengejek sang kakak yang ada di sebelahnya itu. “Kak Ibra bercanda tau, semua yang Ivy buat pasti bagus.” 

Ivy menatap Ibra dengan pandangan yang tak bisa ia baca. Sang adik akhirnya berdiri menghadap sang kakak dengan wajah bersemangat yang membara. “Oke, Ivy bakal bikinin seribu origami lagi khusus cuman buat kak Ibra seorang.” ujar sang adik dengan penuh semangat.

Anak lelaki itu tersenyum lembut. “Kakak gak sabar nunggu seribu origaminya” kedua insan dalam ruangan itu tertawa dengan canda gurau yang saling mereka lontarkan tiada habis. Namun, Ibra menahan diri untuk tidak bertanya macam-macam di saat lidahnya sudah gatal ingin berbicara. 

“Ini pasti mimpi, kan, Iv?” tanya Ibra tidak tahan. Adiknya tersenyum. Ia menyodorkan satu lagi origami berbentuk kupu-kupu berwarna merah muda namun dengan ukuran lebih kecil dari yang sebelumnya ke arah Ibra.

“Sini, mana yang warna biru tadi.”

Ibra menurut. Dia memberikan origami kupu-kupu yang berwarna biru kepada sang adik, lalu disejajarkan dengan yang berwarna merah muda.

“Ini Ivy, sama kak Ibra.” tunjuk sang adik pada origami di hadapan nya. Tak tahan dengan ungkapan sang adik Ibra meneteskan air matanya, sadar bahwa orang di depan nya ini sudah tiada.

“Ivy,” Ibra berdehem, tenggorokannya terasa panas. Dia menggeser duduknya agar lebih mendekat ke arah sang adik. Digenggamnya kedua tangan Ivy yang nampak kotor karena lem kering hasil kerajinan nya tadi. “Kak Ibra. minta maaf, Ivy. Kak Ibra udah jadi kakak paling buruk yang pernah ada. Kakak gak tanggung jawab atas tugas kakak buat Ivy. Kak Ibra benar-benar menyesal.”

“Kak Ibra, Ivy bahkan gak pernah marah sama kakak, Ivy bangga punya kak Ibra yang selalu jagain Ivy saat mama sama papa udah gak ada.” Sang adik membalas, balik menggenggam tangan kakaknya dengan senyum. “Kepergian Ivy bukan salah kakak. Ivy bakalan tetap pergi sekalipun kak Ibra jemput Ivy waktu itu. Sudah takdirnya Ivy pergi, Kak.” 

“Jangan merasa buruk lagi. Jangan tenggelam dalam perasaan sesal yang sebenarnya gak perlu kak Ibra pelihara sampai berlarut-larut seperti ini. Ivy jadi gak tenang, Kak. Ivy sedih liat kak Ibra yang gak semangat jalanin hidup. Yang bisanya cuma ngurung diri di kamar semenjak Ivy pergi. Yang suka nangis diem-diem sebelum tidur. Ivy gak mengharapkan kak Ibra untuk hidup kayak gitu.” 

Ibra menunduk. Bahunya terguncang karena isak tangis yang terdengar sangat memilukan. Dari sejak kecil, temannya hanya sang adik, di saat kedua orang tua nya sibuk bekerja Ivy lah yang mendengarkan keluh kesah nya walau terkadang sang adik tidak mengerti karena umurnya masih tergolong sangat kecil waktu itu. Bagaimana mungkin Ibra bisa melanjutkan hidupnya setelah apa yang ia lakukan kepada sang Adik?

“Kak Ibra gak bersalah, Ivy akan tenang di atas sana kalau melihat kakak kembali menjalani hidup sebagaimana mestinya. Janji sama Ivy, kalau kakak bakal semangat lagi setelah ini?”

“Kak Ibra gak bisa tinggal bareng Ivy aja di sini?” tanya Ibra serak. 

“Gak bisa, Kak. Ivy tau kak Ibra anak kuat. Janji ya kakak bakal lanjutin hidup kakak dan kejar semua hal positif sebisa kak Ibra?”

“Ivy..” “Janji?” “Janji…” 

Ibra terbangun dengan jantung yang berdetak cepat. Kamarnya kembali pada mode berantakandan kotornya. Dia segera menyibak selimut dan berlari menuju ruang tamu untuk memastikan sesuatu. 

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa di sana. Namun, dia mendapati dua lipatan origami kupu-kupu yang menggambarkan dirinya dan sang adik. Matanya memanas. Air matanya mengalir saat tangannya bergerak mengambil sepasang origami itu. 

Perasaannya tidak pernah merasa selapang ini sebelumnya. Ibra menguatkan diri dan berjanji untuk bisa bangkit setelah ini. Sesuai dengan janji yang telah ia buat bersama gadis kecil yang sangat ia banggakan. 

“Ivy, makasih banyak udah datang dan bikin semuanya menjadi lebih baik buat Kak Ibra.”

***

        Ibra berlari di lorong perusahaan ternama dengan tergesa-gesa karena hampir terlambat dari jadwal yang ditentukan untuk wawancara pegawai baru. sudah lima tahun sejak kepergian sang adik, dan sejak saat itu lah ia menjadi pribadi yang lebih baik. 

        Ibra sampai ke ruang tunggu perusahaan itu, syukurlah namanya belum dipanggil. Namun saat pertama kali sampai pandangannya langsung fokus ke paras cantik wanita yang duduk di sofa tepat di bawah lampu, Ibra duduk di sebrang wanita itu memberanikan diri untuk berkenalan.

     “Mau melamar disini juga?” tanya Ibra yang dibalas dengan anggukan.

 

“Saya Ibra.” 

“Ivy, Ivy Kasani.”

 

      Saat pertama kali mendengar nama itu keluar dari bibirnya, saat itu pula Ibra menyadari untuk tidak akan menyesali perbuatannya pada kali ini.

Comments

Popular posts from this blog

MARIO ANDAL PULU

SYAFIRA AYU LARASATI

SERENADE TRESORA RIYADI