DERRIAN KURNIA PUTRA
GEGURITAN
Derrian Kurnia Putra
2411366014
Pengertian
geguritan adalah puisi, yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah sebuah karya sastra jawa yang menggunakan kalimat yang indah dan bagus serta mempunyai sebuah makna. Geguritan ini dapat menggunakan bahasa yang memiliki irama, mitra, rima, baik dalam menyusun kalimatnya.
Contoh
(1)
Kembang Desa
Wengi purnama ingkang sumunar
Cahya nyorot ing desa
Ana kembang kang ayu
Rupa prasaja nanging elok
Kembang desa kang ngrembaka,
Panglipur ati, tresna kang ora bisa ilang
Saka tresna kang kapendhem,
Tresna iki ora entek-entek.
malam bulan purnama yang bersinar
cahaya yang menyinari desa
ada bunga yang cantik
terlihat sederhana tetapi indah
bunga desa yang yang tumbuh subur
kenyamanan hati, cinta yang tidak bisa hilang
dari cinta yang tersembunyi
cinta yang tidak pernah berakhir.
(2)
Kesenian Mulyo
Nggayuh seni, urip dadi becik,
Gamelan nembang, ngiring rasa asih,
Lukis lan tarian, magayuh katresnan,
Kesenian luhur, warisan kagem bangsa.
raih seni, hidup menjadi baik,
gamelan bernyanyi, mengikuti perasaan cinta,
melukis dan menari, meraih rasa cinta,
seni yang tinggi, warisan bagi bangsa.
PUISI MODERN
PUISI PENGAKUAN
puisi ini dibuat dengan rasa bingung.
bingung tentang cara merangkai kata agar tercipta estetika.
ilmu sastra, semiotika, dan pemaknaan pemaknaan yang sudah di kunyah habis sampai merasa paling bisa merangkai kata, ternyata tak bisa menjelma sebuah sajak.
kalah.
semua kata dalam kepala sudah coba ia lebur, tapi hanya berujung hampa tanpa makna.
puisi ini hanyalah teman mengais rindu semalam suntuk,
cup…cup…cup
terdengar subuh menggema dintengah biduk
semoga khusyuk.
yeeey
CERPEN
PRRTTTT
Owi adalah seorang pegawai biasa di sebuah kantor pemerintah yang terkenal dengan birokrasi lambatnya. Di antara berkas-berkas menumpuk dan antrean orang-orang yang menunggu tanda tangan pejabat, Owi sering bertanya-tanya, “Di mana keadilan? Kenapa rakyat kecil selalu dipersulit?” mungkin saking seringnya terjadi di kantor itu, Tapi hari itu, Owi menemukan jawaban yang paling tak terduga.
Pagi itu, kantor sedang penuh sesak. Orang-orang mengantri panjang untuk mengurus surat-surat penting. Sebagai petugas administrasi, Owi hanya bisa duduk di balik meja, mengetik dan memproses berkas yang berdatangan, Meski ia tahu banyak yang merasa dipersulit, Owi tak bisa berbuat banyak karena keputusan ada di tangan atasannya, Pak Hadi, seorang pejabat yang terkenal keras dan sulit diakses.
Ketika jam makan siang tiba, Owi merasa perutnya mulai tidak nyaman. Sarapan bubur ayam tadi pagi ternyata terlalu banyak ditambah sambal. Owi tahu tanda-tanda ini dengan sangat baik. Namun, suasana kantor yang ramai membuatnya menahan diri. Ia tak mau membuat masalah.
Namun, masalahnya bukan hanya perut Owi. Di meja sebelahnya, seorang warga yang sudah menunggu sejak pagi, Pak Wiryo, terlihat gelisah. Berulang kali ia mendesah kesal dan meminta tolong agar suratnya segera diproses. Tapi seperti biasa, surat itu masih harus “ditandatangani” Pak Hadi yang terkenal suka menunda-nunda pekerjaan.
“Mas Owi, ini gimana ya? Saya udah nunggu dari pagi, tapi katanya surat saya belum bisa diproses. Saya ini butuh cepat!” keluh Pak Wiryo.
Owi hanya bisa tersenyum kecut. “Maaf, Pak. Semua keputusan ada di Pak Hadi, saya hanya bisa membantu mengajukan.”
Sambil berkata demikian, Owi menahan gejolak di perutnya yang semakin tak tertahankan. Lalu, tiba-tiba, datanglah Pak Hadi dari ruangan belakang, menghampiri meja Owi. “Owi, berkas apa lagi nih yang harus saya tanda tangan?” tanyanya dengan nada malas.
Di saat yang sama, Owi sudah di ujung batas. Perutnya tak bisa lagi diajak kompromi. Saat Pak Hadi menunduk untuk melihat tumpukan berkas di meja, tiba-tiba... PPPRRRTTT!
Owi tak sengaja melepaskan kentut panjang yang nyaring. Kantor mendadak hening. Mata Pak Hadi melebar, dan wajahnya berubah merah padam. Semua orang di ruang itu menahan tawa, sementara Owi mati-matian mencoba terlihat tenang.
Pak Hadi berdiri diam beberapa detik, lalu berkata dengan suara yang tegang, “Siapa yang berani kentut di sini?”
Owi, yang merasa bersalah namun juga tak tahan ingin tertawa, mencoba mengalihkan perhatian. “Pak, itu... mungkin angin dari luar,” katanya sambil setengah menunduk.
Namun, sebelum Pak Hadi bisa bereaksi lebih lanjut, tiba-tiba Pak Wiryo yang sedari tadi cemas berdiri dan berkata, “Maaf, Pak Hadi. Bukan saya yang kentut, tapi kalau Bapak bisa tolong tandatangani surat saya, saya janji nggak akan ngomong soal ini ke siapa-siapa.”
Semua orang di kantor tertegun. Pak Wiryo yang biasanya pendiam ternyata memanfaatkan momen kentut itu untuk menuntut keadilan. Pak Hadi, yang tampaknya malu dan tidak mau berlama-lama dalam suasana canggung, langsung mengambil pulpen dan menandatangani surat Pak Wiryo tanpa banyak protes.
Pak Wiryo tersenyum puas dan langsung pamit. Sebelum pergi, ia menepuk pundak Owi dan berbisik, “Mas, kentutmu hari ini membawa keadilan. Terima kasih.”
Owi hanya bisa mengangguk sambil menahan tawa. Siapa sangka, di tengah birokrasi yang bobrok, ternyata kentut bisa jadi alat untuk menuntut keadilan?
Comments
Post a Comment