MF DWI LAKSANA
SISINDIRAN
MF Dwi Laksana
2411367014
Pengertian
Pantun Sunda pengertiannya berbeda dengan pantun Melayu. Pantun Melayu semakna dengan Sisindiran, yaitu puisi yang terdiri atas dua bagian; sampiran dan isi. Sedangkan pantun Sunda adalah seni pertunjukan. Pantun adalah cerita tutur dalam bentuk sastra Sunda lama yang disajikan secara paparan (prolog), dialog, dan sering kali dinyanyikan. Seni Pantun itu dilakukan oleh seorang juru pantun (tukang pantun) sambil diiringi alat musik kecapi yang dimainkannya sendiri.
Sisindiran ialah bentuk puisi terikat Sunda tradisional. Puisi Sunda kiasan (Sindir) diberikan oleh kombinasi kata yang menyinggung nyata makna oleh asosiasi suara. Sisindiran biasanya disajikan dalam bentuk nyanyian.
Contoh
(1)
Poé senén tumpak kuda
Nyépak pulisi neunggar cilaka
Boga présiden bageur kacida
Deudeuh ka budak, konstitusi kuat ka diréka
(Hari senin mengendarai kuda
Nendang polisi nabrak celaka
Punya presiden baik sekali
Sayang ke anak konstitusi sampai direkayasa)
(2)
Néang bayawak ka malabar
soré jumaah jang didahar
Leuweung ruksak, rakyat lapar
Gawé pamaréntah kur jang nu bareunghar
(Mencari biyawak ke malabar
Sore jumat untuk dimakan
Hutan rusak, rakyat lapar
Kerja pemerintah hanya untuk orang kaya)
PUISI MODERN
SOAL ESAI
Apa yang kamu ketahui tentang 10 hewan endemik Indonesia di bawah ini?
Komodo
Polisi
Kepolisian Republik Indonesia
Joko Widodo
Jokowi
Presiden Indonesia ke-7
Jalak Bali
Ir. H. Joko Widodo
Elang Flores
Ir. H. Joko Widodo bin Widjiatno Notomihardjo
Tuliskan masing-masing minimal satu paragraf dengan menggunakan bahasa China yang baik dan benar.
Yogyakarta, 23 September 2024
CERPEN
KAKI MATA MATA KAKI
Aku suka memegang kakiku sendiri, menggenggamnya kuat-kuat atau sekedar menyentuhnya dengan ujung-ujung jari. Aku menyukainya karena saat mereka berdekatan mereka seperti sedang ngobrol. Akhirnya mereka bisa ngobrol setelah kerja seharian. Tanganku kerjanya memudahkanku menggulung benang warna oranye, kalau kakiku dia memudahkanku berjalan dari kamar ke Mars buat antar benang. Ketika aku memegang kakiku dengan tangan, hanya tangan kanan memegang kaki kiri atau kanan, hanya tangan kiri memegang kaki kiri atau kanan, kedua tangan memegang hanya kaki kiri atau hanya kaki kanan, tangan kiri memegang kaki kiri berbarengan dengan tangan kanan memegang kanan, atau tangan kiri memegang kaki kanan berbarengan dengan tangan kanan memegang kaki kiri, aku benar-benar merasa istirahat.
Pagi, hari ke 63 di bulan Kura-kura, sebelum kerjaan kumulai, ketika aku akan jalan mengambil minum tiba-tiba aku terjatuh keras ke arah kanan, tidak lewat dari 4 detik aku menyadari kalau kaki kananku, 3 cm di atas mata kaki, hilang. Tentu itu membuatku panik, karena ini baru pertama kalinya aku kehilangan kakiku. Panikku mereda sesaat setelah aku sadar kalau aku juga lapar dan ingin makan, setelah makan lontong instan dengan sekaleng sarden kuputuskan untuk mulai cari sebelah kakiku yang hilang. Aku mencari di dalam dan di luar sekitar rumah tidak ada. Dengan jalan yang jadi pincang, aku cari sampai jauh, di dekat bangunan bundar yang warna hijau tua aku bertemu dengan kabel USB type-C, dengan sangat mendadak dan cepat dia berputar melilit dada dan leherku.
"Kamu mau kemana?" USB type-C itu bertanya.
"Cari kakiku yang tadi pagi hilang" jawabku.
"Loh kok bisa ilang?" dia bertanya lagi.
Aku menjawab "Gatau, tiba-tiba saja."
"Aku kabel yang jahat dan preman, aku tak pernah curi kaki orang, langsung aja rampok kepalanya, sekarang aku mau ambil kepalamu."
Mendengar itu aku sontak memberontak, melawannya, berusaha melepaskannya dari dada dan leherku, dia susah dikalahkan dan ia mau merampas kepalaku. Usaha terakhir yang bisa kulakukan adalah dengan batuk sekeras mungkin, pada batuk yang kedua kalinya, kabel USB type-C yang jahat itu berhasil kutangkis, ia terlempar cukup jauh. Secepat kemampuanku berlari aku melarikan diri. Setelah jauh melarikan diri aku kembali lagi untuk mencari kakiku yang hilang ke arah yang lain.
Siang hari yang terik, sekarang gelap karena sudah mulai turun hujan chiki kentang lengkap dengan saos cabe. Sesegera mungkin aku cari tempat berteduh, karena kalau tidak cepat-cepat, aku bisa tenggelam di dalam chiki kentang yang tak mudah dialirkan got kecil di kota ini.
Untungnya aku sudah dekat dengan Sigmun Freud, aku melompat kedalam kuping Freud untuk berteduh di sana. Karena di luar hujan chiki kentang semakin deras, akhirnya aku cuma bisa cari kakiku di dalam kuping si Freud, di dalam sana gelap, untungnya aku ingat tips and trik dari obrolan bersama strap gitar, “...kalau kegelapan di suatu tempat cobalah tampar pipimu 8 kali, 3 kali pipi kanan, 5 kali pipi kiri…”. Setelah aku melakukannya, hidungku menyala seperti lampu motor. Aku bisa melihat permukaan kuping Freud seperti gua licin yang purba.
Di tiap sudut yang sembunyi aku perhatikan, barangkali kakiku nyangkut, menggantung, atau tergeletak disana. Semakin dalam aku cari kakiku, nihil, malah pijakan terasa semakin licin, dan rasanya makin susah buat berjalan, apalagi dengan kondisi pincang tanpa sebelah kaki. Sialnya, saat itu aku tidak tahu, kalau Freud sedang ngantuk di kelas filsafat Pak Wahid. Berbarengan dengan langkahku ke 52 masuk ke dalam kepala Freud terangguk karena ngantuk, celaka saat itu, aku terpeleset dan tak mampu meraih apapun. Aku jatuh, terpental ke arah pertigaan kuping antara jalur menuju otak, atau berbelok ke mulut, hidung dan tenggorokan. Aku terpental jauh berbelok ke tenggorokan.
Ketika terjatuh, di tengah kesialan itu, beruntung aku bisa meraih sesuatu. Itu adalah uvula. Aku menggantung disana, berharap bisa perbaiki keadaan. Berpikir sebentar, keras dan bingung, satu-satunya solusi adalah melompat ke arah mulut, dari sana aku bisa keluar dari badan Freud yang mulai kusadari menjadi berbahaya sebab sesekali selalu tersentak karena dia sedang terkantuk-kantuk. Aku mulai persiapkan diri untuk melompat, menarik nafas, di hitungan ketiga aku akan lompat.
Satu...
Dua...
Tiga!!
Aku melompat.
Kesialan yang entah nomor berapa di hari ini, sepersekian detik setelah melompat aku menyadari tanganku masih menggenggam kuat uvula, aku melompat meninggalkan tanganku. Sial lagi, lagi-lagi sial. Berikutnya adalah ternyata lompatanku kurang cukup kuat untuk bisa berhasil mendarat ke pangkal lidah. Lompatan kini menjadi terjun bebas ke tenggorokan. Rasanya seperti sedang terjatuh dari menara pencakar langit. Tubuhku terjatuh ngebut sekali, sambil melihat kedua tanganku yang terlihat semakin menjauh menggantung di uvula.
Byur!
Aku nyemplung ke cairan asam lambung, semuanya perlahan terasa hangat, berdesakan dengan makanan yang mungkin baru dimakan satu jam yang lalu. Saat mulai tenggelam, tentu saja tenggelam, karena bagaimana bisa berenang tanpa tangan dan kaki yang hilang sebelah.
Aku perlahan bisa merasakan semuanya, bahkan aku mengingat gedung-gedung tinggi di ibu kota Jakarta, aku bisa merasakan mereka bergoyang terkena badai yang sering berlangsung di bulan Kelelawar. Aku merasakan segalanya. aku merasakan putaran planet dan matahari. Semakin dalam aku tenggelam, kini tubuhku mulai terurai karena asam lambung yang terasa makin hangat dan berbau tajam. Tubuhku meleleh, kepala telepas dari pundak, betis terkoyak, kulit-kulit dan urat-urat berpendar, otak dan ususku begitu cepat terurai ketika asam lambung mulai meresap kedalam kepala atau tubuhku. Ya! saat ini aku sedang tercerna oleh metabolisme perut Freud. Aku menggunduk bersama ampas makanan dan mulai teralirkan ke usus.
Menunggu dikeluarkan.
Aku di keluarkan, melalui lubang anus.
Yang tersisa dariku, yang bertahan, hanyalah kedua bola mataku.
Semoga ini adalah kesialan terakhir.
Dari dalam kloset toilet lantai tiga gedung Prodi Teater ISI YK aku menggelinding pulang ke rumahku yang berjarak satu jam perjalanan. Aku terus menggelinding, menatap. Tanpa lagi bisa merasa kesal atau sedih sesekali aku berhenti untuk membersihkan tubuhku yang kini tinggal kedua bola mata.
1 jam 4 menit 23 detik, aku berhasil pulang ke rumah tanpa berhasil menemukan kaki kananku yang tiba-tiba hilang pagi tadi. Malah-malah makin parah, tubuhku hilang semuanya, juga mungkin tanganku yang tertinggal di uvula Freud sudah tertelan sekarang.
Aku tak peduli lagi.
Sekarang aku hanyalah kedua bola mata, terdiam di kamar, melihat benang-benang oranye yang belum selesai kulilit kemarin.
Sekarang aku hanyalah kedua bola mata. Ya, tersisa kedua bola mata, aku tak lagi bisa merasakan apa-apa. Tak lagi bisa pusing, gatal, lapar, atau bahkan sekedar berpikir dan mengingat. Aku hanya bisa melihat, ngantuk, dan tertidur tanpa memejam.
Comments
Post a Comment