M. RIFDAL AIS ANNAFIS

SANJJA’

M. Rifdal Ais Annafis

2411359014


Pengertian

Sanjja’ adalah puisi bahasa Madura kontemporer yang dipopulerkan Arach Djamali yang tidak terikat dari model apapun meski tetap memperhatikan rima dan pelafalan. Puisi Madura digemari masyarakat muda Madura karena terutama, diberikan tempat dengan layak di koran Radar Madura lewat rubrik sanjja’. 


Contoh

(1)

Ajar Ngargai Ojan


bula menangka ojan se toron

samalem benteng

tape dhika genthong se mangkorong

:ta’ kenal nape bei macemma ropa

se gaggar dhari pancoran.

Sumenep, 2024


Belajar Menghargai Hujan


Aku menyangka hujan yang turun

semalam suntuk

kendati kau wadah telungkup

: tak mengenal apapun macam rupa

yang jatuh dari pancoran (tempat air)

Sumenep, 2024



(2)

Samarena Ojan


careta-careta se tapongkor gumegil

nyares ngalotor

noro’ gilina jenneng ba’a

e tapak dhangdhang

se nojju saba, raba, ban sagara.

Sumenep, 2024


Setelah Hujan


Cerita-cerita yang kelewat menggigil

nyaris berjatuhan

ikut alir bening air

di jalan setapak lawan arah

menuju sawah, rawa, dan segara.

Sumenep, 2024


PUISI MODERN


tuhan


tuhan yang bening seperti betis

perempuan, kota apa yang gagal

kami kenang?

2024



Supremasi Hari


Sebab kecewa adalah ledakan-ledakan

kecil dari dunia


maka aku persiapkan bunyi-bunyi video,

lagu-lagu melow, dari warna-warni

sosmed


meme-meme pendek

yang menawarkan rasa iba


perasaan lucu dan mungil 

tumbuh seperti

hari yang tak mengenal dunia


dan bila kuota tipis, makin tipis,

seperti iman,

ku ledakkan pintu rumah

dengan tangis dan rengekan-rengekan


orang-orang, yang lugu dan sendu 

tergopoh-gopoh


sambil menyodorkan uang –yang tadinya

untuk minyak gas di dapur, dan berujar cemas,


“ini uang untuk membeli masa depan, mungkin 4 Gb

 tetapi setidaknya, setidaknya, hidup yang kau imani

 dapat diperpanjang beberapa hari.”


dengan ringan dan riang aku tersenyum


Yogyakarta, 2024


CERPEN

Hari yang Dikecualikan Langit

Sore itu lenggang. Amat lenggang. 

Asti sedikit gugup dan gelisah di depan rumah kontrakannya. Matanya mengerjap, setelah dilepasnya sekali lagi kacamata bening itu. Sepasang kaki mungilnya menendang-nendang batas teras depan.  Ia rapatkan jaket lusuh yang dikenakannya lalu bergumam lirih, 

“Sudah sekitar dua jam. Kenapa belum sampai-sampai juga?”

“Kenapa kemarau sebegitu dinginnya,” ia kembali merutuk agak kesal.

Ia kemudian sadar, atau bersusah-payah mengingat: nanti aku tidak akan kedinginan lagi.

***

Seorang pemeluk gereja yang taat, mestilah dikenal baik setiap warga. Sebab setiap akhir pekan, pada minggu pagi cerah, ia akan tergesa menuju gereja Kapel St. Yohanes dekat jalan raya untuk ibadah. Ibadah yang membuat tubuhnya ringan, seperti merasakan persoalan-persoalan yang mengerubunginya sepanjang hari tercerabut. Apalagi, ia penyenandung koor yang fasih. Mesti ia akan gembira.

Tetapi tidak untuk Asti, setidaknya setelah ia kerap menjumpai lelaki itu. Seorang lelaki yang matanya menimbun banyak duka.

Hari itu, Asti terlalu pagi berangkat. Ia memilih tidak langsung masuk ke gereja karena mesti bosan menunggu. Ia malah berhenti di taman kecil samping gereja, dengan berjalan pelan menikmati setiap hembusan angin segar taman. Matanya tiba-tiba menangkap sepasang kembang Kemboja, hanya sepasang, tetapi sebab itu tubuhnya bergetar pelan.

“Aku benci Kemboja, apalagi seputih itu!”

Kepalanya mengkalkulasikan banyak hal, terutama tentang lelaki itu. Ia pikir, sepasang kembang Kemboja selalu menyimpan dua kabar buruk. Bahwa ia akan ingat betul, pada hari ke-273 setelah mereka berjumpa, Asti diperkenankan lelaki itu untuk membeli kembang untuk ditaburnya pada satu pekuburan yang sama-sama mereka kenal. Selanjutnya, adalah hal-hal yang tak pernah ingin dikenang. 

Ia kemudian ingat, waktu yang amat pendek itu, lelaki tersebut nyerocos banyak hal. Seakan-akan, setelah mereka selesai mengunjungi pekuburan dan menaburkan kembang tersebut, mereka akan berpisah lama.

“Mari kita rayakan kemenangan ini, Asti,” ucap lelaki itu, dengan kerling mata menggoda.

“Kita selesaikan perasaan menyebalkan ini.”

Asti sedikit kikuk untuk bicara, lalu memilih diam. Matanya memejam, dan merasakan betapa waktu terlalu cepat melesat dan tubuhnya seperti dibanting begitu saja. Sedang pikirannya, tidak. Tidak sama sekali. Ia malah ingin berdiam lama di pekuburan itu, dan jika boleh, akan memeluk seonggok tubuh yang sebetulnya tak benar-benar ia benci. Namun, ia memilih menyembunyikannya. 

Lalu matanya beralih menatap lekat-lekat wajah lelaki itu. 

“Matamu dipenuhi birahi seekor babi,” gumam Asti pelan, tetapi tak terdengar.

“Kau bicara apa, Asti?,” kata lelaki itu sambil mengangkat alis.

“Tidak ada, sungguh tidak ada.”

Tiba-tiba Ia tersadar dari kenangan buruk tersebut ketika lonceng gereja berdentang sekali, lalu terburu-buru meninggalkan taman untuk beribadah dengan tenang. Berharap baik-baik pada tuhan.

***

Januari adalah permulaan. Permulaan dari setiap harapan yang diam-diam orang lepaskan. Atau sesekali mereka teriakkan nyaring pada tinggi pengeras suara. Begitupun doa-doa, dilepaskan kepada langit. Januari adalah bulan baik bagi setiap orang. Begitupun bagi Asti dan lelaki itu. Mereka berdua sedang dirundung tembang asmaradana. Seperti kisah klise remaja lain, atau cerita-cerita dongeng kampung kakeknya. Tetapi, cerita dongeng hanya cerita dongeng. Lebih banyak bualan-bualan penghibur untuk sejenak melupakan kesedihan. Ya, kesedihan.

Dan lelaki itu, adalah pemuda taat. Tentu di mata Asti, lelaki itu selalu dapat dipercaya. Meski pun, pada setiap kata-kata picisannya, bualan-bualan berhamburan seperti pecah lampu kunang-kunang musim kemarau. 

Mereka berjumpa untuk kesekian kali sore itu, pada sebuah kafe tidak terkenal dan tidak mempersoalkan apapun dari moral-moral berengsek dunia. Kafe ini, hanya mampu ditemukan pada sebuah gang kecil pinggiran kota, sebuah gang yang diam-diam menanggalkan kepercayaan  semua orang tentang apa yang disebut-sebut moralitas tertinggi khalayak. Mungkin saja, kafe ini (meski hanya menurut pengakuan banyak orang, dan disebarluaskan dari mulut ke mulut) adalah bentuk moralitas paling tinggi dari kemanusiaan. Meski Asti dan lelaki itu hanya kebetulan berkunjung. Tetapi mereka cukup sumringah.

Setelah selesai memesan, mereka memilih duduk di bagian luar kafe. Pada bangku-bangku  berbentuk hati dan setengah terbuka, pada luas taman. 

“Apa kau sudah bermoral hari ini?,” sergap Asti memecah sunyi.

“Kadang-kadang, aku bosan. Moral selalu menuntut banyak hal,” sambil memalingkan muka.

“Justru sebab itu, aku benci moral sebetulnya. Terutama, sebab bermacam-macam tampaknya. Tetapi…,” Asti berhenti sejenak lalu sedikit mendongak ke langit.

“Kenapa?,” ucap lelaki itu tak sabar.

“Sungguh aku sangat pesimis, betapa ayahku, sisa keluargaku, tidak akan mendengarkan moral-moral yang telah kita sepakati ini,” 

“Aku punya ide paling brilian di dunia. Meski sebetulnya, ini melanggar moral khalayak. Tetapi di hadapan orang yang memiliki pengrasaan serupa, apa yang perlu dikhawatirkan?” 

Mata lelaki itu berbinar.  Sangat berbinar. Seakan-akan, ia sedang bertemu seseorang yang memanggul firman Tuhan. Kemudian, lelaki itu mengenggam tangan Asti erat. Sangat erat. Dan lelaki itu yakin, jika akhirnya cerita ini sampai kepada pembaca, maka penulis cerita ini akan dihujat. Tetapi lelaki ini berdalih, di hadapan pengrasaan, apa dan bagaimana harusnya sikap diperbuat selain tabah dengan macam-macam harapan.  

Setelah selesai bercakap-cakap, dan malam sebagaimana malam tiba, mereka memutuskan pulang ke kost lelaki itu. Menyatu dalam senggama dahsyat.

***

Perayaan Epifani sebentar lagi tiba, Asti sibuk latihan Koor di gereja Kapel St. Yohanes, terutama sebab ayahnya akan menjadi calon pastor. Sejak lama ayahnya yang bahkan kumisnya  hampir memutih itu, telah menghapal puluhan gaya khotbah. Puluhan khotbah yang bagi Asti selalu menyebalkan. Tetapi ia tidak ragu, bahwa ayahnya lebih taat dari penganut agama manapun. Sebagaimana lelaki itu dengan agamanya. Sebagaimana keraguan yang terus menggedor-gedor keyakinannya.

Tiba-tiba seorang warga yang lebih muda dari ayahnya, seorang keturunan dari pastor gereja Kapel St. Yohanes yang hampir pensiun, membawa seorang pemuda yang adalah anaknya bertamu malam itu. Dengan sedikit wibawa yang dipaksakan, menemui ayahnya. Sebetulnya, Asti capai sehabis pulang berlatih Koor seharian, tetapi ayahnya yang ambisius itu memaksa ia menemani menyambut tamu kehormatan tersebut. 

“Saya ingin memulai dengan ucapan selamat kepada pastor baru kita,” begitu ucap warga yang lebih muda dari ayahnya itu membuka percakapan.

Sambil terperanjat lalu bergembira, ayahnya Asti menjawab takjub, “terima kasih, ah bapak muda ini berlebihan,” sambil tangannya menepuk-nepuk punggung Asti bangga.

“Yang terhormat pastor baru kita, saya ingin menyampaikan pesan pastor lama. Setelah dipikir-pikir jernih, pastor lama akan pensiun lebih cepat.”

“Begitukah?,” desak ayah Asti.

“Ya, begitu. Dan maksud saya datang kemari adalah mengabarkan kepada anda, wahai pastor baru yang terhormat,” lalu menarik nafas dalam-dalam, “bahwa anda diminta menjadi pastor untuk memimpin perayaan Epifani yang agung itu dua hari depan,” jelasnya dengan mantap.

“Saya merasa terhormat,” ucap ayah Asti dengan penuh penekanan.

“Hanya saja, ini pesan pastor lama,” 

“Apa itu wahai tuan terhormat?,” sergah ayah Asti cepat-cepat.

“Anak saya, yang adalah cucu dari pastor lama selalu memperhati Asti diam-diam. Setelah lama kami tanyakan akhirnya anak ini mengaku ingin menikahi Asti. Meski tidak ingin terburu-buru sebab kita masih merayakan Epifani yang agung itu, tetapi saya dan pastor lama ingin menikahkan dengan Asti selepas perayaan ini berakhir. Mungkin tiga atau empat minggu setelahnya.” Ucap warga yang lebih muda dari ayahnya itu tegas.

Sesaat hening. Ruang tamu kontrakan yang sebetulnya tidak terlalu sempit itu, terasa sangat pengap. Asti membisu. Lama sekali. Dadanya sedikit sesak dan berguncang. Ia tidak dapat mencerna persoalan yang dihadapinya, karena kepalanya seketika pening. Ia tidak ingin mendengar apapun, terutama dari ayahnya yang telah sejak lama menghapal puluhan gaya khotbah itu.

“Sungguh keberuntungan dua kali, saya sepakati persyaratan ini,” balas ayah Asti sambil menyalami warga yang lebih muda darinya itu.

***

Asti adalah pemeluk gereja yang taat. Dan setiap akhir pekan, pada minggu pagi cerah, ia akan tergesa menuju gereja Kapel St. Yohanes dekat jalan raya untuk ibadah. Apalagi, ia penyenandung koor yang fasih. Dan ayahnya yang bahkan kumisnya  hampir memutih itu, telah menghapal puluhan gaya khotbah sebab menjadi calon pastor baru. Tetapi sore yang lenggang itu, di depan rumah kontrakannya, ia sedikit gugup dan gelisah menunggu lelaki itu.

Sebab lelaki itu, setelah dikabari tentang seorang warga yang lebih muda dari ayahnya bertamu malam itu, dua jam lalu tiba ke rumah kontrakannya sambil memegang erat sebuah parang dengan mata merah menyala. Setelahnya, adalah hal-hal yang tak pernah ingin diceritakan. Tetapi yang pembaca harus ketahui, bahwa lelaki itu berjanji kepada Asti akan tiba sejam lagi membawa sebuah mobil, plastik hitam, juga kapur barus. 

Tetapi di hadapan orang yang memiliki pengrasaan serupa, apa yang perlu dikhawatirkan selain tabah dan mencoba berbahagia?

Yogyakarta, 2023

*Cerita ini untuk Fransisca Asti Kusumadewi, percalah selalu ada kompromi untuk menjalin cinta meski dengan keyakinan berbeda.



Comments

Popular posts from this blog

MARIO ANDAL PULU

SYAFIRA AYU LARASATI

SERENADE TRESORA RIYADI